3 Tantangan Product Management di Indonesia

Azzadiva Sawungrana
4 min readOct 25, 2022
Photo by Amélie Mourichon on Unsplash

Product Management adalah sebuah bidang yang tak pernah terpikirkan menjadi bagian dari hidupku. Aku adalah orang yang cenderung menyukai ilmu-ilmu eksakta seperti fisika dan matematika daripada bisnis atau ekonomi. Tak dinyana jalan hidup membawaku menjadi orang produk bahkan dengan waktu hampir 5 tahun, sama sekali tidak sedikit, kurang lebih 18% dari total hidupku. Tentu saja product management kemudian mendefinisikan siapa aku sekarang. Aku dikenal sebagai orang produk daripada, contoh saja, orang yang suka menulis. Tidak lain dan tidak bukan karena karirku di bidang ini. Walaupun harus diakui memang aku bergerak di industri yang masih berhubungan dengan subjek kuliahku dahulu.

Selama hampir 5 tahun ini aku menemukan banyak hal yang menjadi tantangan bagi orang-orang produk di Indonesia, khususnya produk-produk B2B. Tantangan-tantangan yang sepertinya tidak banyak terjadi di US, namun sepertinya juga terjadi di Eropa. Ini mungkin terjadi karena pasar US sudah mature dengan banyaknya startup teknologi yang telah memasuki tahapan keuntungan bersih yang positif dari tahun ke tahun mengingat mereka telah muncul sejak 90-an, melalui dot com bubble dan subprime mortgage crisis.

1. Pengembangan Software Dipandang Sesuatu yang Sangat Cepat.

Photo by Chris Ried on Unsplash

Software adalah sesuatu yang maya, tidak kasat mata, dan mayoritas orang Indonesia melihat penambahan suatu tombol atau filter seharusnya bukan sesuatu yang sulit. Ini tidak hanya terjadi pada klien B2B, namun juga anggota tim. Beberapa contoh nyatanya adalah provider ERP. Pembuatan suatu fitur dilihat sebagai sesuatu yang seharusnya cepat dan tidak perlu berlama-lama. Padahal dalam pengembangan software, terutama software SaaS, penambahan sebuah fitur perlu kajian yang panjang dari sisi kebutuhan bisnis, kebiasaan pengguna, preferensi warna pengguna, hingga kemampuan tim itu sendiri. Karena penambahan atau perubahan fitur artinya penambahan item dalam pemeliharaan dan perubahan sistem yang effort-nya pun tidak kalah besar dari pembuatannya.

2. Pengguna Indonesia Suka Personalisasi

Photo by KOBU Agency on Unsplash

Pengguna Indonesia relatif menyukai personalisasi softwarenya. Hal ini menyebabkan software personal ataupun bisnis perlu untuk dapat menyesuaikan terhadap kemauan spesifik penggunanya. Hal ini jelas sangat sulit dilakukan di software/aplikasi dengan pengguna masif seperti Gojek atau Tokopedia. Aku tidak tahu cerita penuh di Gojek/Tokopedia terkait dengan hal ini, namun, untuk B2B ini adalah sesuatu yang jamak teradi di Indonesia. Pengguna software B2B di Indonesia memiliki kecenderungan untuk meminta kustomisasi terhadap kebutuhan bisnis mereka yang spesifik. Inilah juga mengapa software berkonsep SaaS masih rendah secara overall meskipun tren menunjukkan hal yang sebaliknya. Menurut BCG, pasar SaaS di Indonesia akan meningkat dari $100 juta di 2018 menuju $400 juta di 2023 atau 31.9%, kenaikan yang sangat signifikan. Namun secara umum masih berfokus terhadap aplikasi HR dan finance. Tren ini menunjukkan angin segar bahwa software yang universal juga dapat diadopsi di Indonesia, namun tentu saja dengan pricing yang lebih menarik karena infrastruktur dijadikan satu untuk semua pengguna dalam cloud.

3. Scope Product Management Kurang Dipahami

Photo by Per Lööv on Unsplash

Product Management merupakan sebuah konsep yang belum lama masuk ke Indonesia yang baru dibawa oleh startup-startup teknologi di dekade 2010an. Industri yang sudah berkembang di Indonesia seperti perbankan dan manufaktur tidak menggunakan istilah ini. Paling dekat adalah Brand Management, Manajemen Produksi/Manufaktur, dan Product Development dalam Manufaktur. Hal ini menyebabkan pemahaman dan pendefinisian yang tidak sama. Seringkali Product Management, Project Management, dan Brand Management (bahkan QA) beririsan sehingga diserahkan pada satu peran tertentu. Juga product management dilihat sebagai sebuah pekerjaan yang mencakup semua produk yang ada dalam perusahaan. Dan yang paling sering, Product Manager dilihat sebagai sebuah peran manager, padahal dia adalah individual contributor yang pekerjaannya akan dikelola oleh lead-nya. Pemahaman yang kurang menyeluruh ini terjadi hampir di setiap tingkatan hirarki perusahaan baik stakeholder maupun staff, bahkan staff produk itu sendiri. Saya rasa karena memang belum ada kitab suci produk yang dapat menjadi arahan bersama.

Ketiga hal tersebut adalah tantangan yang saya rasa masih relevan di dekade 2020-an ini. Sehingga saya rasa action item yang perlu diambil adalah orang-orang produk di Indonesia berkumpul, membentuk sebuah standar yang secara opsional dapat diadopsi oleh sesama orang dalam product management, dan juga memberikan awareness terhadap stakeholder terkait dengan scope pekerjaan product management. Ada yang terlupa: tetap optimis di 2030 adopsi SaaS di Indonesia tinggi yang menunjukkan bahwa orang Indonesia akan mau menggunakan program yang sifatnya universal meski masih ada fitur personalisasinya sedikit lah.

Terakhir, poin-poin di atas adalah opini pribadi saya, sehingga dengan senang hati saya menerima kritik dan masukan pembaca agar kepenulisan saya bisa tambah rapi, terstruktur, dan yang jelas akurat.

Klaten, 25 Oktober 2022

--

--