Cara Bertahan dari Hari yang Penuh dengan Meeting untuk Introvert

Sebagai seorang introvert dalam bisnis, kita perlu ikut meeting yang tak terhitung jumlahnya dan menguras banyak energi. Banyak meeting yang tidak dijalankan dengan pakem yang baik, tanpa agenda terstruktur (itu pun jika ada), berlangsung terlalu lama, dan tidak memperhitungkan urusan kita yang lain.

Dengan kultur pekerjaan dan bisnis Indonesia yang sangat kental dengan nuansa keramah-tamahan, saya rasa menjadi efisien akan sangat sulit. Kita harus mengapresiasi pekerjaan orang, meng-update hidupnya, memahami sudut pandangnya, dll, membuat meeting jadi berlarut-larut.

Saya menemukan beberapa tips, yang meskipun juga masih kumat penyakitnya, tapi setidak-tidaknya mengurangi ‘rasa sakit’ setelah meeting :

1. Selalu Meeting dengan Persiapan

Entah meeting yang kita pimpin ataupun yang dibuat oleh orang lain, selalu lakukan persiapan. Riset terhadap 5W+1H dari mereka yang akan kita temui, jika bukan tim kita (meeting eksternal) dan persiapan materi dan/atau pertanyaan.

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan :

a. Cari tahu siapa orang yang akan kita temui, dalam kasus saya, saya hampir selalu cek LinkedIn orang-orang yang akan saya temui, setidak-tidaknya untuk memberikan gambaran latar belakang seseorang. Ini membantu saya untuk mendapatkan konteks pola pikir dan perspektif yang muncul dari orang yang saya temui.

b. Jika dengan client, cari tahu apa perusahaan itu, bergerak di industri apa, core business-nya apa, dan mengapa mereka tertarik untuk berkontak dengan kita. Ini variasi dari poin a, dimana kita fokus ke perusahannya dan apa saja pain point-nya. Penting sekali, karena tanpa memahami hal-hal ini kita akan kesulitan untuk membantu atau, setidak-tidaknya, memahami masalah mereka. Tanpa memahami masalah mereka, kita hanya akan ngomong tanpa arah, ada komunikasi, tapi tidak ada koneksi.

c. Minta agenda dari pembuat meeting, minta detail apa saja yang akan dibahas dan apa saja yang harus, dan opsional untuk kita siapkan. Dengan mengetahui agenda, kita akan tahu hal apa saja yang jelas prioritas harus kita siapkan dan apa yang bonus, dan apa yang tidak perlu sama sekali.

d. Persiapkan pertanyaan. Jika kita sudah memahami sudut pandang personal, perusahaan, dan agenda, maka kita akan bisa mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan untuk membantu kita dalam memahami masalah, solusi, atau apapun yang dibutuhkan semua pihak.

2. Minta Waktu Buat Mikir

Sebagai seorang introvert sudah biasa sekali rasanya kita perlu mencerna informasi-informasi yang didapat sebelum menjawab. Host seringkali meminta pertanyaan agar diskusi berjalan dengan interaktif, tapi ketika pemaparan disampaikan secara penuh maka otak kita pun perlu mengolahnya jadi saripati sebelum siap untuk diproses.

Jika kita adalah host-nya, maka aturlah meeting untuk memiliki jeda bagi kita sendiri dan audiens. Saat saya jadi host biasanya saya akan mengambil model diskusi kelompok di tengah sehingga saya punya waktu untuk bernafas diantara sesi.

Luka lebih parah terjadi ketika kita berdiskusi untuk dealing besar dengan client atau vendor. Trik saya adalah selalu meminta waktu untuk berpikir setelah meeting atas pertanyaan atau penawaran yang diajukan. Ini sangat bermanfaat untuk memahami posisi dan perspektif kita sebelum mengambil keputusan.

3. Ide Setengah Matang itu Ga Masalah

Ini yang saya pelajari dari bisnis dan kawan-kawan saya yang juga cenderung introvert. Kami cenderung untuk tidak mau memberikan ide setengah matang karena merasa kurang sempurna. Entah apakah ini pola yang terjadi secara umum, namun ini terjadi di tempat saya bekerja. Oleh karenanya, saya selalu menyarankan ke diri sendiri dan kawan-kawan untuk menyampaikan saja apa yang ada di otak ketika terlintas ide setengah matang, lagipula lawan bicara kita juga akan membantu dalam proses berpikir kita. Malah mungkin kita akan menemukan logical fallacy (kesesatan berpikir) dalam otak kita. Jangan overthinking aja deh.

4. Tunjukkan Kelebihan Introvert

Ada beberapa hal yang bisa memaksimalkan kelebihan introvert dalam sebuah meeting, seperti :

a. Gunakan kemampuan mendengarkan sebaik-baiknya ketika tidak menjadi host. Perhatikan semua poin yang tersampaikan dan tanyakan/kritik poin yang belum dibahas atau menjadi kekurangan.

b. Cari peran dalam meeting. Ketika kita tidak menjadi host, lihat apa yang dilakukan dan didiskusikan dalam meeting. Isi satu peran yang belum ada, pura-pura jadi orang lain. Misalnya, ketika diskusi internal tentang flow pengembangan dan satu pendapat menjadi persetujuan bersama tapi tanpa ditantang, jadilah orang yang mempertanyakan keputusan itu untuk mengeksplor apakah keputusan itu merupakan yang terbaik atau masih ada opsi lain.

c. Ngomong yang esensial. Tidak penting apakah kita menjadi suara yang paling didengar atau tidak, yang pasti kita punya pendapat yang perlu diketahui orang. Kita harus selalu percaya diri dengan apa yang kita sampaikan, karena omongan kita juga sama berharganya. Dan untuk saya sendiri, saya sering memberikan target untuk berbicara saat meeting agar saya termotivasi untuk ngomong.

5. Buat Catatan Sendiri

Saya sih selalu catat entah di papan pribadi, binder, maupun catatan digital seperti Google Keep atau Notion. Karena mencatat bantu banget untuk memasukkan apa yang ada dalam meeting ke memori. Tapi yang paling penting dalam sebuah catatan meeting adalah : action items. Action items membantu kita untuk mengarahkan diri sendiri dalam melakukan aksi follow up dari meeting.

Pede aja gais. Saya mulai terkesan oleh orang sebagai ekstrovert ketika saya menemukan tips-tips ini dan mendapatkan kepercayaan diri dari doi saya. Tips-tips di atas ini betul-betul membantu diri saya pribadi karena saya jadi tidak terlalu berpikir tentang pandangan orang dan juga lebih hebring dengan apa yang saya ingin lakukan karena saya sudah tidak peduli dengan orang lain. Memang terdengar egois sih, tapi saya rasa ini cara yang mudah dan praktikal untuk sehari-hari. Dengan strategi dan tujuan, meeting akan menjadi hal yang, meskipun tetap saja ngos-ngosan di akhir tapi, menyenangkan karena kita tidak fokus pada manusia tapi pada goals kita.

Klaten, 3 Februari 2022

--

--

A learner just like you

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store