Syair Batu Kali

Azzadiva Sawungrana
1 min readMar 27, 2023

--

Photo by Casper van Battum on Unsplash

Dua puluh sembilan hari,
kata hujan Sabtu kemarin
untuk si batu kali
diterjang aliran sungai

Di hari ke sembilan belas lalu,
sebuah kerikil menghampirinya

“Darimana kau berasal, kril?”
“Aku dari Gunung Kawi.
dan kau pasti Gunung Merapi.”
“Ya, berhentilah sejenak disini.
Pandanglah sejenak kali ini.
Dari lereng atas itu,
lahar akan menerjang kita.
Kita akan berenang di lautan.”

Batu kali dan kerikil melihat sungai itu
berubah-ubah formasinya
bertambah sedimennya
dan berbagai macam burung
berlalu-lalang mengambil tangkai

Enam hari pun berlalu
dengan mereka mengamati
harumnya daun jeruk,
sejuknya air dari mata air tengah,
dan kasarnya permukaan badan mereka
sambil selalu berharap lahar segera menerjang

Di tengah pengamatan mereka,
seekor awan menghampiri

“Hei, kau ingat aku?”
“Siapa kau?”
“Aku hujan Sabtu waktu itu.
Aku selesai kencing disana!
Dan kau!
Akhirnya kau sampai disini”
“Apa yang kau maksud?
Kami masih menunggu lahar!”
“Kalian terlalu khusyu mengamati.
Lihat diri kalian”

Ombak dan pohon kelapa
Awan kumulus
Batu kali dan kerikil

Mereka sampai

Den Haag, 28 Maret 2023

--

--